Perjalanan panjang ini akan segera dimulai dengan bekal yang telah diberikan dengan baik. Bak Ayah yang memberi nasehat pada anaknya yang masih sangat polos dan tidak mengerti apapun. Sang anak pun perlahan mulai mengerti akar masalah dan perlahan menyesuaikan diri dengan yang ada. Dan yang terpenting, berjuang bersama untuk masa depan yang lebih baik.
Malam dingin ditemani rintikan hujan halus seakan menjadi saksi untuk kesekian kalinya bahwa perjuangan ini akan segera dimulai. Malam itupun menjadi saksi terpilihnya nahkoda baru kami yang luar biasa.
Namun malam itu sempat menyesakkan hati. Sesak hati yang kemudian kulampiaskan dengan pelukan sangat erat hingga tanpa disadari air mata dari kedua mataku turun bersamaan saat aku melepas pelukan tersebut dan berbalik. Celaka, mau pergi, pergi kemana. Oh, air mata yang mati rasa. Air mata ini ternyata tak bisa ditahan. Aku pergi duduk membelakangi sedangkan karibku berbicara singkat dengannya. Ternyata beberapa mengetahui bahwa air mataku tumpah. Ya Allah. Akhir pertemuan itu kami tutup dengan saling menyemangati.
Meski jam telah menunjukkan pukul 8.16 pm, aku masih ingin berbincang dengan karibku itu. Aku mengutarakan mengapa air mata ini bisa jatuh. Air mata yang mati rasa. Air mata yang tumpah dikala yang lain sedang bercengkrama sendiri. Air mata yang sepertinya salah tempat untuk jatuh. Air mata yang mungkin menimbulkan kesalahpahaman berbagai pihak.
Air mata ini jatuh bukan karena aku tidak menyukai sebuah keputusan, melainkan air mata ini menyadarkanku bahwa malam itu menandakan sebentar lagi aku akan kehilangan orang-orang yang sangat berjasa bagiku. Orang-orang yang membantuku, memaksimalkan potensiku, mengajakku untuk berpartisipatif, mengingatkanku untuk kuat, menuntunku ke jalan yang benar, yang pada pertemuan pertamanya sudah kusambut dengan air mata yang deras -hahaha, dan lain sebagainya.
Meski bukan berpisah secara fisik, namun berpisah ‘materi’ yang seperti ini tentu tak kalah menyesakkan hati.
Kurang lebih enam hingga delapan bulan yang indah dan penuh manfaat dikala yang lain melihatnya berbeda. Apa salahnya berterimakasih kepada yang berjasa. Dan akan ada waktunya surat tanpa alamat, muncul di suatu tempat. Semoga surat tersebut sampai pada orang-orang yang tepat.
Semangat perubahan!
Ulfah Choirunnisa






