...Dan.. masih berbicara tentang sejarah, kala aku masih pusing dengan pilihan buku yang harus di baca demi tersusunnya mozaik sejarah Indonesia, aku bertemu lagi dengan orang-orang yang kini turut 'membantu' menyusun mind palace (Istana pikiran yang dibangun dari diskusi dan literatur) ku. Mereka bukan orang yang sudah lama ku kenal. Baru saja genap setahun. Tetapi kehadirannya membuat mataku terbuka lebar untuk terus belajar sejarah. Tapi, bukan hanya sejarah Indonesia.
Lalu, sejarah yang mana lagi? (Part 2)
***
'..Peradaban yang terjadi sekarang udah beda jauh sama peradaban ketika Islam mencapai puncak kejayaannya di Andalusia. Tugas kita saat ini adalah merebut kembali kejayaan Islam pada masa itu'
Tunggu, Andalusia? dari namanya, aku coba menebak bahwa negara itu terletak di Benua Eropa. Tapi, apa hubungannya dengan Islam? Bukankah Eropa mayoritas dihuni penduduk yang memeluk agama kristen-katolik?
Film 99 Cahaya di Langit Eropa agaknya sedikit memberiku gambaran tentang Islam di Eropa. Tentang bagaimana sang aktor mengunjungi Hagia Sophia, Turki yang begitu memesona dan mengagumkan. Perlahan aku mulai memahami -dari film, bahwa ternyata, dulu sekitar tahun 700an M, Islam datang ke Eropa tepatnya Andalusia untuk menaklukkan negara-negara disana. Penaklukan ini rupanya adalah penaklukan agar masyarakatnya beralih dari non islam menjadi Islam. Penaklukannya berhasil dan membuat seluruh daratan Andalusia saat itu beragama islam semua kecuali 2 (atau 1? -lupa) negara yang masih belum bisa ditaklukkan,
Lagi-lagi aku dibuat penasaran dengan cerita ini. Sejauh aku bersekolah, aku tidak menemukan Andalusia di pelajaran sejarah manapun. Aku mulai merasa bahwa ini adalah 'additional' knowledge which every moslem should know. Ini wawasan yang baru bisa kudapatkan jika aku self-exploring tentang sejarah Islam di dunia. Tapi sayangnya aku tidak terpikirkan sedikitpun tentang self-exploring saat itu.
Semester awal kuliah, selain aku memutuskan untuk membeli biografi 'Hatta' dan meminjam buku-buku teman, aku juga membeli buku yang ada 'Embel-embelnya' Andalusia supaya aku bisa mempelajari lebih lanjut tentang Andalusia. 'Dari Puncak Andalusia' karangan Zainal Arifin dengan tebal buku 720 halaman menjadi pilihanku untuk (masih) mencari starting point 'menyukai sejarah'. Itu tebel banget, dan sebenarnya sempat ragu bakal bisa selesai. Terbukti, sampai sekarang masih stuck di halaman 200an (hiks) itupun sudah diulang 2 kali.
***
Allah kemudian menakdirkanku untuk tinggal di Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta. Sedari awal, aku menyadari bahwa aku disana bagaikan butiran debu yang dibelah tujuh. Sedang lainnya saat itu sudah terpancar bahwa kepribadian dan wawasannya sudah melimpah ruah. Tapi mereka belum menampakkannya, baru sekadar tebakanku melalui sorotan mata mereka.
Perlu sekitar 3 bulan untuk mengenal lebih jauh tentang mereka. Perlahan, mereka mulai memperlihatkan dirinya secara tersirat. Melalui jabatan, bacaan, dan tulisan.
Ayu Rahmawati Kautsar Dieni atau akrab disapa Ayu Kudo, ialah Srikandi yang paling banget getol dengan buku dan tulisan. Seperti dijelaskan Kak Fia, Rak buku Ayu Kudo kurus, bukunya hanya sedikit (literally sedikit) tapi mind palacenya sudah sangat besar. Dia lebih dan sangat sering meminjam buku baik di perpustakaan maupun di temannya. Baitul Hikmah, perpus kesukaannya. Bacaannya bervariasi: mulai dari Islam, novel, pergerakan, semua dia babat habis. Senyumnya terkembang lebar ketika ia mendapatkan buku baru dari temannya atau hasil pinjaman dari Baitul Hikmah. Ia gelisah ketika ia belum selesai membaca buku tetapi sudah di tagih-tagih oleh pustakawannya. Ia selalu bercerita dengan menyelipkan penggalan sejarah seperti '..Ya Allah lupa lah, ga sehebat Badiuzzaman Said Nursi yang bisa nulis ulang karyanya sama persis' katanya saat harus mengulang tulisannya yang hilang sebelum sempat di simpan. Yuk, tell me who is he T_T Ayu Kudo juga sering nulis di blognya. Ayu Kudo adalah inspirasiku untuk belajar sejarah, utamanya sejarah Islam.
Masih ada lagi, namanya Nurul Muizah. Anak Kedokteran yang hobi banget sama sejarah. Mba Izzah ini yang kuceritakan di part 2 (yang beli 6 buku tempo), sekalinya pinjem buku, yg bagus-bagus banget. Dan tidak jarang buku yang dipinjam adalah buku berbahasa Inggris. Mba Izzah kini menjadi teman kamarku, jadi setiap kali dia baca buku dan bukunya keren, pasti disela-selanya selalu bilang 'Ya Allah ini bener banget ini. Keren banget. Upeh kamu harus baca buku ini pokoknya!' Berulang kali. Setiap kali selesai membaca buku, ia selalu storytelling kepadaku yang belum sempat membaca disela-sela kita kumpul bareng. Mba Izzah juga jadi inspiratorku untuk mempelajari sejarah baik Indonesia, Dunia, dan Agama.
Terimakasih Ayu Kudo dan Mba Izzah yang akhirnya membuatku semangat kembali dalam menghilangkan kutukan sejarah. Ketidaksukaanku kepada sejarah rupanya menjadi kutukan yang besar hingga membuatku hampir buta tentang sejarah negeri dan agama sendiri.
***
Inspirasi tidak selesai sampai disini.
Aku, sebagai pemula masih belum expert untuk menyusun atau memberikan rekomendasi buku. Jadi, aku sangat senang jika kalian memberiku usulan buku-buku yang wajib dibaca. Aku juga merasa sangat beruntung ketika aku memiliki teman yang memberikan reading-list nya untuk menanyakan apakah aku memiliki salah satunya atau tidak. Buku yang direkomendasikan sangat asing bagiku. Sungguh. Bahkan aku tidak pernah mendengarnya. Beberapa buku yang menjadi reading-list nya yang masih kuingat hingga saat ini diantaranya Brief History of Time, Mukaddimah, (ternyata BHoT dan Mukaddimah ini bergengsi bgt!), Rumbalara, Che, dan Butir Kearifan Raja Jawa.
Satu kata ketika aku membaca reading-listnya: Sangat bervariasi.
Ada sejarah, Ilmiah, Islam, Syair, dan Kepribadian. Bagaimana caranya menyelesaikan semua buku itu? Tanyaku pada temanku. Kemudian ia menjawab Katanya, buku tidak harus dibaca habis. (Tell me how could it be please..) Si pemilik reading-list ini memang ternyata sangat mengagumkan. Sangat lihai dalam sejarah, apalagi cara ia menulis. ciamik. Yang lebih mengejutkan, katanya, target membaca perbulan adalah 5 genre yang berbeda.
Then, I was shocked.
Seketika aku kagum dengan segala pengetahuannya yang selalu ia bagikan melalui tulisan. Tulisannya menagih dan tidak membosankan. Mungkin karena ketertarikannya pada syair, yang memang hadir untuk 'mempercantik' tulisan sehingga pesan dapat tersampaikan dengan baik. Ia religius, Ilmiah, dan logis.
***
Saat ini, aku sedang membaca buku '1984' karya George Orwell dan 'Penaklukkan Muslim yang Mengubah Dunia' Karya Hugh Kennedy. Berat atau ringan, harus di tebas demi wawasan yang lebih baik (huhu)
Daann... yeay! Dari 3 part 'Kutukan Sejarah', Aku akan coba menyimpulkan kiat-kiat mencari starting point untuk 'Menyukai sejarah' dan untuk menghilangkan kutukan sejarah versiku:
1. Self-exploring. Cari literatur tentang sejarah yang kita tahu obyeknya sehingga akan mudah membayangkannya.
2. Membaca tulisan orang-orang yang lihai dalam sejarah. Tapi jangan hanya satu orang saja. Mewaspadai keterbawaan arus, Setidaknya, kita berusaha moderate kan?
3. Mencari teman yang memiliki ketertarikan yang sama: Membaca buku dan bisa storytelling ke kita (hehehe)
***
That's all for this 'Kutukan Sejarah' :) (Maaf tulisannya terkesan sangat tergesa-gesa)
Terimakasih bagi yang sudah membaca, terimkasih bagi yang terlibat di dalamnya. Semua membuawaku kepada perubahan yang besar. Setidaknya, hingga saat ini aku masih berjuang untuk menghilangkan kutukan itu. Aku sedang berusaha mempelajari sejarah. Oleh karena itu, aku sungguh sangat membutuhkan rekomendasi dari teman-teman dan juga tulisan yang mampu mendukung salah satu misiku. Pernah suatu kali aku mendengar bahwa untuk mempelajari Sejarah, perlu sesuatu yang unik dan kuharap teman-teman mampu membagikan keunikan itu agar aku sukses menyukai sejarah.
Kini aku sadar, tidak suka dengan pelajaran sejarah adalah hal yang salah besar! Mau bagaimanapun keadaan kita, kita harus berdamai dengan sejarah. Kita harus mampu mencintainya. Karena sejarah saat ini telah terbuka pada kita semua -meski harus pandai memilah. Zaman ini bukan lagi zaman 1984 dimana setiap perkataan, pemikiran, perasaan, disadap, dikendalikan oleh partai tertentu. Dan ini juga bukan zaman 1984 dimana sejarah harus direka ulang, dipalsukan, untuk keuntungan salah satu partai.
Saat ini kita bebas. Saat ini kita merdeka. Sudah sepatutnya kita mencintai sejarah. Karena sekali lagi, sejarah menyimpan banyak pelajaran yang dapat kita ambil agar masa lalu yang kelam tidak terulang kembali. Agar kelak, kita mampu membuat perubahan besar dari kesalahan-kesalahan yang lalu, dan tetap melanjutkan pemikiran atau sikap para leluhur demi negeri yang lebih baik.
Sejarah memang sulit dipelajari bagi orang yang sempat 'hilang' ditelan waktu, seperti aku. Maka, bantu aku pahami sejarah!
(Selesai)
...Satu dari mereka pernah bilang 'Kita harus belajar sejarah supaya kita tidak salah ambil langkah dan kejadian yang lalu terulang kembali'.
Aku, mahasiswa tahun pertama (saat itu), masih belum memiliki pandangan bagaimana caraku untuk bisa memutarbalikkan pikiran ke pelajaran sejarah saat aku SMP. 'Semua orang berkata orde baru, semua orang berkata radikal, semua orang berkata sejarah! apa yang bisa kuingat lagi tentang ini?! aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk memahami -bukan sekadar menghafal- sejarah, aku tidak mampu lagi mengingatnya. Haruskah aku membeli lagi LKS kuning itu?' Aku mengeluh pada diriku sendiri. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Dan inilah penyesalanku yang pertamakali pada sejarah. Sampai suatu saat aku memberanikan diri bertanya kepada salah satu dari mereka
'Mas, gimana sih kok bisa tau penggalan-penggalan sejarah gitu? itu kan pelajaran SMP'
Jawabannya singkat, 'Baca buku'
Gemas sekali. Aku berpikir buku itu banyak, mana yang harus aku baca? Dan jawabannya adalah 'Buku yang bergenre sejarah'. OMG, still have no idea. Akhirnya hari setelah itu aku memutuskan untuk pergi ke Gramedia -Belum mengenal Togamas nih yang selalu diskon- dan menemukan buku 'Hatta' terbitan Tempo. Buku ini kupilih random karena tidak ada yang merekomendasikanku buku apa yang harus aku baca untuk menarik memori terdahuluku, dan salahku juga karena tidak bertanya rekomendasi buku. Mungkin masih terlalu polos dan lugu.
***
Tau kan kalau Penerbit Tempo itu punya banyak serial? Ya, ternyata 'Hatta' ini serial Bapak Bangsa. Kenapa milih 'Hatta'? Karena pernah dapet cerita (atau sentilan?) dari orang-orang hebat tadi dengan perkataannya 'Bung Hatta aja di dalam penjara bisa menghasilkan buku. Masa kamu yang enggak di penjara gabisa ngehasilin apa-apa?'. Kalimat itu sangat cukup menyentilku yang saat itu rajin menulis tapi tidak begitu berfaedah (Lah emang sekarang udah berfaedah?). Jadilah kupilih buku 'Hatta' sebagai gerbangku menuju 'Menyukai sejarah'.
Aku mulai membaca buku 'Hatta' tanpa memperdulikan ciri khas tiap penerbit. Semua ku generalisir. Yah, dasar newbie, semua-semua di generalisir. Belum memahami gaya-gaya tiap penerbit. Tebas saja. Kubaca 'Hatta' dan perlahan aku mulai memahami seorang Hatta yang dikenal mempunyai senjata yakni pena. Hatta sangat suka menulis dan membaca. Betapa kagumnya aku dengan beliau yang hidup di zaman susah tapi masih mampu menghasilkan karya dan memperbaharui wawasannya.
And Yeay! aku berhasil membaca habis buku 'Hatta' ! Rasanya senang sekali, akhirnya bisa tahu 1/1000000000 tentang Hatta.
Sesaat aku merasa senang dengan diriku yang akhirnya mampu membaca habis biografi tokoh bersejarah. Segera, aku tersadar bahwa untuk bisa mengatakan sesuatu dengan penggalan sejarah tadi, kita tidak bisa hanya belajar dari satu tokoh saja. It's like a mozaic! potongan fotonya adalah biografi-biografi tokoh, catatan peristiwa, catatan konflik, catatan zaman, dan catatan-catatan lainnya. Potongan foto itu harus disatukan sehingga menjadi mozaik yang utuh dan dapat dilihat melalui helicopter view.
***
Setelah Hatta, aku kembali bingung apakah aku harus membeli semua biografi tokoh terbitan Tempo, atau aku lebih baik membaca buku yang berisi peristiwa sejarah sehingga aku akan mendapati karakter tiap tokoh meskipun hanya secuil? Pertanyaan ini hanya menghasilkan tanya. Tanpa jawab. Kebingungan memilih buku kemudian membawaku kepada scrolling timeline line dan mencari di Internet atau stalking social media profile orang-orang keren. Aku belajar dari mereka melalui tulisannya.
Beberapa waktu yang lalu, temanku, Mba Izzah, ke kamar dengan membawa buku serial Tempo sebanyak 6 buah. I'm kind of histeric. OMG she really bought this all OMG. Aku meminjam buku biografi Sultan Hamengkubuwono IX. Tambahlah aku merasa bodoh. Sebagai orang jogja, belum mengenal sosok sultan yang ternyata luar biasa ini harus dihindari! Di buku itu dibahas banyak kebaikan Sultan HB IX dan hubungannya dengan kemerdekaan Indonesia. Disitu juga dijelaskan bagaimana Jogja yang pada awalnya merupakan negara sendiri kemudian memutuskan untuk bergabung bersama Indonesia dan memperjuangkan kemerdekaannya. Dan dari situ juga aku baru tau kalau Ambarrukmo Plaza yang kini menjadi hotel, dulunya adalah singgasana Sang Raja!
I got the point from this. Aku merasa senang karena aku bisa bilang 'Oalaaaah itu..' ketika membaca buku sejarah. Aku merasa sejarah itu benar-benar sesuatu yang harus dipelajari jika aku tahu obyeknya. Sehingga mampu membayangkan dan penasaran akan masa lampaunya and how was it formed. Yes, ternyata, untuk dapat menyukai sejarah, bagiku, adalah dengan mengetahui obyek yang akan kita telisik masa lampaunya. Karena aku tau Ambarrukmo Plaza, mengetahui kisahnya zaman dahulu menjadi lebih menarik untuk dipelajari. Jadi, kenali obyek, telisik sejarahnya.
I got the point from this. Aku merasa senang karena aku bisa bilang 'Oalaaaah itu..' ketika membaca buku sejarah. Aku merasa sejarah itu benar-benar sesuatu yang harus dipelajari jika aku tahu obyeknya. Sehingga mampu membayangkan dan penasaran akan masa lampaunya and how was it formed. Yes, ternyata, untuk dapat menyukai sejarah, bagiku, adalah dengan mengetahui obyek yang akan kita telisik masa lampaunya. Karena aku tau Ambarrukmo Plaza, mengetahui kisahnya zaman dahulu menjadi lebih menarik untuk dipelajari. Jadi, kenali obyek, telisik sejarahnya.
Membaca biografi Sultan IX membuatku banyak menggelengkan kepala. Sultan, you are such a very good man. Where will i find the one like you in this era? Aku mulai mengetahui sedikit tentang sejarah Jogja dan Sultan. Sebagai kurcaci kecil sekecil debu yang dibelah tujuh ini, jika boleh menyarankan, bagi orang Jogja yang belum pernah baca tentang Jogja silakan baca biografi Sultan terbitan Tempo yang cenderung ringan dan mudah dipahami. Di dalamnya diberikan pula rekomendasi biografi Sultan yang lebih komprehensif jika tertarik untuk mengkajinya lebih dalam.
***
Itu sedikit tentang bagaimana aku mencari start point dalam mempelajari sejarah Indonesia: Belajar biografi (yaa. baru dua sih. Tolong recommend hehe)
Hingga detik ini, aku masih belum menemukan buku yang mampu membantuku menyusun mozaik-mozaik itu menjadi satu gambar yang utuh. Rekomendasi buku-buku sejarah yang mudah dipahami boleh banget untuk ditinggalkan di kolom komentar ini or kindly send me message by Instagram hehe. I really am need that recommendation.
Dan.. masih berbicara tentang sejarah, kala aku masih pusing dengan pilihan buku yang harus di baca demi tersusunnya mozaik sejarah Indonesia, aku bertemu lagi dengan orang-orang yang kini turut 'membantu' menyusun mind palace (Istana pikiran yang dibangun dari diskusi dan literatur) ku. Mereka bukan orang yang sudah lama ku kenal. Baru saja genap setahun. Tetapi kehadirannya membuat mataku terbuka lebar untuk terus belajar sejarah. Tapi, bukan hanya sejarah Indonesia.
Lalu, sejarah yang mana lagi?
(Bersambung)

***
Itu sedikit tentang bagaimana aku mencari start point dalam mempelajari sejarah Indonesia: Belajar biografi (yaa. baru dua sih. Tolong recommend hehe)
Hingga detik ini, aku masih belum menemukan buku yang mampu membantuku menyusun mozaik-mozaik itu menjadi satu gambar yang utuh. Rekomendasi buku-buku sejarah yang mudah dipahami boleh banget untuk ditinggalkan di kolom komentar ini or kindly send me message by Instagram hehe. I really am need that recommendation.
Dan.. masih berbicara tentang sejarah, kala aku masih pusing dengan pilihan buku yang harus di baca demi tersusunnya mozaik sejarah Indonesia, aku bertemu lagi dengan orang-orang yang kini turut 'membantu' menyusun mind palace (Istana pikiran yang dibangun dari diskusi dan literatur) ku. Mereka bukan orang yang sudah lama ku kenal. Baru saja genap setahun. Tetapi kehadirannya membuat mataku terbuka lebar untuk terus belajar sejarah. Tapi, bukan hanya sejarah Indonesia.
Lalu, sejarah yang mana lagi?
(Bersambung)

Sedari SMP, aku sangat tidak menyukai pelajaran sejarah. LKS (Lembar Kerja Siswa) nya berwarna kuning dan ketebalannya sangat mencolok sehingga mudah ditemukan ketika buku itu bercampur dengan buku lainnya di rak. UTS dan UAS paling menyiksa adalah IPS bagian sejarah karena lagi-lagi bahan yang diingat sangat banyak! belum lagi tanggal dan tahun yang suka terbalik-balik angkanya antar peristiwa.
Dulu, zaman aku SMP, pelajaran sejarah membahas tentang sejarah Indonesia. Sejarah bagaimana Indonesia dijajah, Indonesia melawan, Peristiwa G30SPKI, Agresi Militer I, Agresi Militer II, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan Indonesia -utamanya bagian kemerdekaan. Tiap kali mau ujian, sejarah selalu saja mengambil porsi waktu belajar paling banyak. Dan karena model belajarku adalah hafalan, maka sesaat hafal, setelah selesai ujian dan tidak diulangi lagi, maka buyar sudah. Buyar. Aku senang sekali ketika aku kelas 3 SMP, akan beranjak ke SMA yang harapannya tidak ada sejarah -atau kalau ada, tidak seberat ini.
Harapanku rupanya belum dikabulkan. SMA ternyata masih saja mempelajari Sejarah meskipun materinya berbeda dengan materi saat aku SMP. Sejarah di SMA ku lebih banyak belajar tentang arkeologi, candi, dan asal usul benda purba. Bukan sejarah Indonesia secara real atau sejarah dunia. Mungkin pernah dipelajari, tapi aku tidak ingat karena aku masih tidak suka dengan pelajaran sejarah.
Singkat cerita, saat dinyatakan telah lulus SMA, aku bersiap diri untuk memasuki Peguruan Tinggi. Kampus, sederhananya. Dan yea! betapa senangnya hatiku ketika aku tau bahwa kehidupan kuliahku tidak ada pelajaran sejarah! I dont have any worries to memorize that -very much literature. Perlahan, pelajaran-pelajaran sejarah itu mulai tertinggalkan tanpa kusadari. Baik pelajaran IPS sejarah maupun pelajaran Agama yang bagian sejarah -trust me, the name and the dates are very difficult to memorize.
***
Rupanya aku terkutuk oleh rasa tidak suka ku terhadap sejarah. Masa kuliah rupanya masa-masa menggali ilmu sebanyak-banyaknya, mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, dan membuat perubahan sebanyak-banyaknya. Betapa mirisnya aku ketika menyelami dunia kampus dengan hiruk pikuknya yang demikian, lingkungannya yang heterogen, dan orang-orangnya yang heterogen pula.
Seketika, aku menemukan salah satu orang yang menjadi icon kampus. Ia banyak mengeluarkan kata baik ketika berada di depan mahasiswa, maupun melalui tulisannya yang meyakinkan. Bicaranya banyak, berdasarkan data, dan yang paling kusoroti adalah dia yang selalu memberikan penggalan sejarah disetiap tulisan maupun omongannya. Kemudian aku bertanya dalam hati,
Mas ini suka sejarah ya waktu sekolah?
Kukira hanya kebetulan. Mengingat di awal aku baru menemukan satu sosok yang demikian. Namun ternyata seiring berjalannya waktu, semakin aku memutuskan untuk bersikap penasaran dengan kehidupan kampus yang begitu 'bebas', banyak sekali fotokopiannya mas-mas yang ini. Hampir semua orang yang terkenal di kampus selalu berbicara dengan menyelipkan penggalan sejarah seperti 'Kalau kata Buya Hamka nih ya....' atau 'Wah ini mirip banget nih kondisinya kaya pas zaman orde baru...' penggalan-penggalan itu membuatku makin merasa bodoh. Dulu aku belajar ini woy, belajar orde baru. Tapi yang kaya gimana ya? pikirku.
"Ingat perkataan Ir. Soekarno, 'Jas Merah''" katanya.
Apa itu? tanyaku kala itu dalam hati. Ternyata Jas Merah adalah singkatan dari 'Jangan Sekali -kali Melupakan Sejarah'. Ku putar balikkan lagi pikiranku, berharap masih ada sisa-sisa pelajaran sejarah masa SMP tentang jas merah yang melekat. Nihil. Ya, tapi nihil. Aku tidak menemukannya sehingga aku harus bertanya pada google untuk mencerna asal usul penggalan sejarah yang dikatakan orang-orang secara instan.
Ya, Semakin mengenal orang tersohor, semakin aku merasa bodoh. Mereka paham betul dengan sejarah. Mereka selalu mengambil pelajaran dari sejarah. Satu dari mereka pernah bilang 'Kita harus belajar sejarah supaya kita tidak salah ambil langkah dan kejadian yang lalu terulang kembali'.
Brilian! kataku polos. (Bersambung)
Brilian! kataku polos. (Bersambung)

Tulisan ini dibuat karena mimpi .


